Kamis, 20 Oktober 2016

Apes - March 25 2007

Gimana ya… Nyang namanya apes tuh…

Rabu… 14 Maret 2007.
Hp, tuh entah kenapa memang sudah mulai sering ngadat. Trus pikir-pikir biarin aja… kan masih bisa jalan walau agak tersendat. Eh… malamnya malah ke cebur di kamar mandi. Ya… sudah…… mo di apain… yang sedihnya karena memang ngak pernah “peduli” hilang deh semua “contact” yang ada, totalnya… 523 contact.. sediuh.. banget. Palagi pas nomor “YayanK” juga ngak ingat. Di amput. Rasanya mangkellll …. marah ndak karuan

Kamis, 15 Maret 2007,
Karena harus nemani bos ke luar kota, terpaksa beli lagi deh.. dari pada di”petuah”-i sepanjang jalan, dan biar ngak “mundur’ dari N90 beli deh N93i- music version. Duileh… keren nya “ABG” buanget.. ndak apa memang rencana mau kasih nantinya buat “my oldest daughther”. Lumayan deh.. meski tuh “contact” hanya berisi “VIP” saja, berangkat deh ke luar kota.

Jumat, 16 Maret 2007
Iseng-iseng set-up 3G, jawabnya… error… Handset nya ngak mendukung… wadug apalagi nih….. nomor nya udah ok kok dari pertama kali 3G launched. eh… lama kelamaan malah ngak ada signal sama sekali. Sampai cobain 6 buah sim card yang lain.. ngak ada signal juga. wuedan……
Lapor ke NOKIA… wadulllll …. harus “nginap” untuk check dan artinya tanpa HP selama week end.. ndak apa-apa libur ini.

Senin, 19 Maret 2007
Nokia Gallery informasikan.. masih harus nginap min tiga hari lagi.. wadullllll. Lengkaplah sudah.. akhirnyanya balik ke Umum, minta Handset yang sudah ngak dipake alias out of date. jadilah sampai sekarang pake nokia -nokia - an.

Edan…. namanya baru benar-benar sial. Punya dua handset.. dua-duanya nginap di bengkel, punya banyak teman… sekarang lenyapppppppp

Wadulllllllllll

Wadulllllllllll

Langit malam jakarta (continued) - July 04 2006

Kompleks Semanggi, akhirnya kami tinggalkan.”Terlalu terbuka dan suasananya terlalu hingar bingar.” Katanya beralasan

Lalu mutar ke arah senayan, Taman Ria. Itu juga akhirnya kami tinggalkan, “Ini cocoknya buat yang memadu kasih”, setelah kami masuk dan mau ambil duduk. So… aku juga ikut bingung.

“Gimana kalau Menteng ?” usulku akhirnya, “rasanya tempat itu bukan tempat memadu kasih dan tidak terlalu hingar bingar, minimal buat nostagia lah.”

“Lha… kalau cuma nemanin kamu dalam bisu, kok harus kesini ya…” akhirnya tak kuat juga mengikutinya membisu sekian lama di MP, bahkan gelas pertamaku pun sudah hampir kosong.

“Rasanya betul aku jadi bernostagia disini… Lagu yang barusan membuat aku seakan kembali ke jaman yang tak bisa kulupakan.” Suaranya lirih.

“Kamu mau cerita tentang itu ?” tanyaku memancing.

“he…he… ngak lah.. hal itu tak membuat suasananya lebih baik kan ?”

“Yah..… dari tadi sebenarnya aku berusaha untuk menebak hal menarik buat kita bicarakan. Tapi kayaknya, tiba-tiba aku jadi seolah tak begitu akrab dengan suasana hati…mu “ kami kembali terdiam.

‘Hei… gimana kalau kita kembali ke komitment awal… just a moment in time… ? makin kagok aku dengan suasana serius seperti ini.” Akhirnya aku berani juga menyatakan yang ada dalam pikiranku. Senyum nya sekedarnya… saja….

‘Hei… I sing a song for you.. “ kataku sambil berjalan menuju panggung tanpa menunggu jawaban.

“Smile an everlasting smile,
a smile can bring you near to me.
Don’t ever let me find you down,
cause that would bring a tear to me. “

kucoba bawakan “World”-nya Bee gees, walau dengan suara pas-pasan. Dua buah lagu berturut-turut mengalun, sebelum kututup dengan The Actor dari albumnya Michael Learn To Rock

“wow… ngak nyangka… kamu bisa sebagus itu. Aku sering dengar orang dari sebrang bisa nyanyi… tapi … ini wow… surprise..” sambutnya dengan antusias.

“That its Maria yang aku kenal… “ sambutku… melihat dia tiba-tiba kembali dalam keceriaan.

“Wow… aku jadi ingin tahu kebisaan kamu yang lain…”

“Yakin… mau tahu kebisaanku yang lain…? aku sich ngak nyesal.”

“Hei… maksudku.. kebisaan yang surprise seperti ini.”

“Ya.. aku punya kebisaan nekad lho…”

“Itu mah bukan kebisaan tapi hobby kamu…”

“Ok.. mau cobain kebisaanku..yang lain..?” sambil menunjuk beberapa pasangan yang sedang melantai diiringi lagu-lagu Sixties.

“Hmh……. Aku ngak yakin…”

“C’mon… just pass the time…” kataku sambil menariknya berdiri.

“Kadang bicara dari hati ke hati.. tanpa suara.. itu memberikan banyak arti yang tak mungkin terungkap.” Bisikku sambil memeluknya. Dia mengangkat kepalanya yang bersandar di bahuku.

“Aku ingin cerita banyak.. tapi apa ada artinya ?”

“Aku ngak tahu… arti apa yang Maria harapkan..” hei.. aku mulai menggunakan namanya dalam percakapan… sejak kapan ya..?

“Banyak orang menyatakan kehadiran orang ke-tiga itu ditandai dengan kebisaan menceritakan sesuatu kepadanya.”katanya sambil kembali menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku tidak menanggapinya dan kami benar-benar menikmatinya. Kami berhenti ketika lagu ke tiga terlewati.

Langit malam jakarta - February 27, 2006

“No matter how the weather, there is always running sun, Wake-up man.”

Jam 05.12. Edan… kadang tak bisa dibayangkan sebesar apa perhatiannya padaku. 

Hampir dua bulan ini, setiap pagi aku dibangunkan smsnya. Nah ini salahku juga, harusnya sampai dirumah, HP tidak aktif, namun justru aku kadang mengharapkannya. Edan.. Ya sudah… “morning, wishing u a nice day” balasku sekenanya.

Perkenalan yang tak seharusnya. Aku mengenalnya ketika harus mengikuti kuliah. Ini masalahnya, kuliah. 

Entah kenapa aku sudah tidak tertarik dengan yang namanya kuliah. Terlalu tua kupikir dan juga belajar kan tidak harus melalui ruang kuliah. “Hari gini masih kuliah…. ? “ celutuk anakku ketika tahu bahwa aku mau kuliah.Aku mulai akrab setelah berkali-kali menemukan kasus yang sama. Terlambat, bahkan untuk ujian tengah semesterpun telat, dan akhirnya aku wajib lapor padanya.

Dan kalimat itu sudah tujuh kali dalam seminggu ini. 

“Hi…. Ada yang mau dijelaskan dengan pilihan sms mu yang terakhir ini ?” ketika sorenya ketemu.

“Ndak.. aku cuma lagi senang aja…dengan kalimat itu. Gimana hari ini, masih melelahkan ?”

“Rasanya ya… masih tetap saja. Kamu gimana… semua berjalan baik.”

“Ada bedanya antara rasanya dengan kenyataannya ?” dia mengacuhkan pertanyaanku sambil tersenyum. Senyum yang tak mudah dilupakan dan selalu memancing perasaan tak tega.

“Ya…. terkadang kita tidak inginkan kenyataan itu menjadi suatu beban, maka kita pakai rasanya. Itu lebih mudah.” Kataku sambil mencoba membuang pandangan

“Ya… no matter how the weather, there is always running sun. Betulkan ? Biasanya kamu penuh dengan komentar. “

“Sulit memberi komentar kepada kenyataan. Kenyataan itu absolut. Yang menjadi pertanyaan adalah pilihannya. Kenapa harus matahari ? Kenapa bukan bulan, lebih nyaman karena bisa sembunyi di antara keremangannya. Atau mungkin angin dengan semilirnya yang menyejukkan ? “ Jam-jam begini TIM memang mulai sepi, dan hujan yang sejak sore memberi nuansa lain. 

“Kadang kita menerimanya sebagai takdir yang tidak bisa dihindarkan. Sejak lahir, kita sudah tidak memilih, kita tidak pernah minta dilahirkan, tidak bisa memilih dalam keluarga yang bagaimana, dalam suku mana atau lingkungan bagaimana. Matipun kita tak bisa memilih. Lalu masihkah kita bicara pilihan ? “ katanya sambil mengaduk-aduk capucino- nya setengah hati. Dia menatapku, agak lain rasanya.

“Tapi kenyataannya kita harus memilih dari banyak pilihan kan ? “ tanyaku tanpa berharap jawaban. 

“Teruskan, saya senang melihatmu bicara “ katanya setelah kami terdiam sejenak.

“Apa yang membuatmu senang, wong aku ngomong sekenanya. Apa karena tidak banyak yang berani bicara sekenanya ? “ dia teruskan mengaduk capucino-nya setengah hati.. Dia menatapku sejenak dan menunduk kembali. 

Dengan statusnya sebagai dosen dan S2, general manager di satu perusahaan ternama lagi, pantas kalau sedikit yang berani bicara terbuka dan seadanya. 

“Mungkin, tapi bukan karena itu, tapi karena sedikit yang berani bicara terbuka tapi tanpa keinginan berlebih.”

‘Hei.. siapa bilang aku tanpa keinginan yang berlebih. Aku mahasiswamu, aku yg butuh nilai yang bagus, ijin datang terlambat, absen yang banyak tapi tetap bisa ikut ujian.” Dan jangan lupa, aku bisa bangga dapat kesempatan ngobrol dengan wanita cantik sepertimu…” Kucoba mencairkan suasana dengan senyum.”
“keinginan yang wajar… apalagi dengan karakter mata keranjang yang kamu miliki, modal nekad yang biasa kamu jalani. Itu sangat wajar.” Senyum menghiasi bibirnya. 

“Cukup diruang kuliah kamu mendengar aku. Materiku adalah yang tertulis, materimu adalah yang ditulis .” lanjutnya sebelum aku kembali menyahut dan menatapku cukup tajam.

“Maksud mu…?” 

“Kamu tahu maksudku. Tanpa kuliah pun kamu udah tahu yang kubicarakan. Yang kamu bicarakan adalah yang kamu lakukan. Dan itu sangat berbeda. Aku belajar literatur, kamu dari pengalaman. ”

“Itu makanya sering salah, tidak seperti mu yang selalu berhasil. Trail error, learning by doing.. he he he.” Dia terdiam tanpa reaksi. aku serba salah, ada yang lain nih. 

Biasanya obrolan kami mengalir tak henti dan tanpa batas. Kadang tentang pekerjaanku, kadang pekerjaannya. Kadang tentang orang-orang yang berhubungan bisnis atau bahkan tentang orang lain yang ada hubunganya dengan kami. Yang jelas kami belum pernah bicara masalah pribadi. Akhirnya aku nyalakan rokok. Dia menatapku tak setuju. 

“Terlalu mengganggumu ?” tanyaku.

“Ya… tapi itu akan mengurangi kenikmatanmu kan ?” kami kembali dengan kesibukan sendiri. Sementara jalanan ramai karena bubaran bioskop.

“Sering aku merasa pilihan itu tak berujung.” Lanjutnya ketika aku masih menikmati rokokku. Aku memperhatikannya.

“Dengan apa yang telah kucapai harusnya ada rasa bangga yang menyelimuti hatiku. Status sosial, tingkat ekonomi dan juga lingkungan hidup yang kumiliki, harusnya sudah memberikan rasa puas. Ya.. kan…?” aku menatapnya, ada nada getir dalam bicaranya.

“Kamu lagi boring juga ya ?” Dia mengangguk. 

“Ya.. kamu seharusnya bangga dengan apa yang kamu miliki sekarang. “ kami terdiam cukup lama dan aku mulai ragu dengan pembicaraan seserius ini.

“ This is the Friday night, mau menghabiskan malam ini denganku “ aku kaget mendengar ajakannya yang tiba-tiba. Tiga bulan ini seingatku dia tidak pernah cerita masalah, apalagi akrab dengan gempita malam.

“Are you sure ? “ aku masih ragu-ragu.

“Tak ada yang perlu kutakutkan kan ?” jawabnya yakin.” Atau aku terlalu tua menemanimu ?.” 

“Hah….. aku lebih tua minimal sepuluh tahun darimu.” Jawabku dalam hati sambil menimbang-nimbang.

“Please, belum ada janji kan.” Ya.. aku pernah cerita bahwa Friday night selalu kuhabiskan dengan teman-teman. 

“Atau aku belum masuk klasifikasi teman ?” dia mulai merajuk. Aku bingung, benar-benar bingung. Ragu, seragu-ragunya. Gila… kemana nih. Bukan masalah waktunya, tapi tempat dan suasana yang diinginkannya.

“Oke, aku cuma suka live music, sedikit minum, ngobrol bebas, ya dance.. kalau ada kesempatan, berlebih untuk kamu temani ?” dia mendesakku. Gile…. Benar-benar gila…. Baru ini kali aku justru yang kurang yakin diri.

“Kamu terlalu sempurna untuk ke tempat seperti itu. Terlalu mahal, karena akan mengurangi nilai yang kamu miliki sekarang.” Akhirnya bisa juga aku bicara.

“Nanti tolong jelaskan itu disana.” Katanya sambil mengangkat tangan untuk minta bill.

“Kita pakai mobilku aja, mau taruh mobilmu dikantor atau tinggal disini ?” dia berdiri mengenakan kembali blazer nya. “Ada apa sich, kok tiba-tiba lain dari biasanya ? “ tanyaku ketika sudah duduk disebelahnya keluar dari kantorku.

“Boleh minta nyalain aku rokok ? Ingin juga kembali nikmati merokok” Aku makin kaget. Merokok ? Wow banyak juga hal yang harus kutahu darinya selain sisi “sempurna” yang selama ini ada.

“Mungkinkah kita bisa lepas dari semua status yang kita pikul hanya sejak saat ini sampai nanti kita pisah ” katanya setelah melepaskan asap dari mulutnya.

“Ok… aku terbiasa dengan situasi seperti itu” aku mulai menemukan percaya diri, yang terjadi terjadilah.

“Apa kamu mulai kecewa dengan apa yang kamu lihat sekarang, paling tidak nilai yang tadinya kamu berikan berkurang ?” 

“Terhadapmu ? Tidak. Kita penuh dengan beragam nilai. Tergantung dari pertanyaannya. Nilai apa yang kamu tanyakan. Sebagai dosen kamu bukan dosen yang buruk. Sebagai wanita… kamu masih sangat menarik dan….” 

“stop.. kamu kalau sudah diberi angin, langsung tiupannya sekencang angin tornado” dia memotong. “justru itu yang kuinginkan.. biarlah itu semua tetap ada, tapi tidak menjadi dasar. Kita ketemu, bicara dan tanpa dasar. Just a moment in time. Berlalu dengan sendirinya.” Jalan sudirman masih juga ramai, walaupun sudah tidak macet.

Kecewa - February 27, 2006

“Perubahan. Tak ada yang abadi selain perubahan.” aku membuka cerita, dan dia mencoba mendengar.

“Perubahan yang lebih sering tanpa kita sadari dan harapkan. Perubahan karena sekeliling kita yang berubah. Karena sekeliling kita yang memaksa berubah.”

“Hei suaramu penuh keraguan. Apa ini juga salah satu yang telah berubah dari mu ?” dia memotong bicaraku. Aku menatapnya. Ya suaranya tidak pernah berubah, intonasi dan laval bicaranya selalu bening dan tegas. Seolah tak satu halpun yang bisa merubah tekanan suaranya, selalu hangat, lembut tapi jelas.

“Mungkin.. “

“Aku melihat perubahan itu padamu. Aku mengikuti nya. Tak ada yang salah dalam perubahan itu kan ? Bukankah justru perubahan itu yang kita harapkan dan cita-citakan ? Itu yang membuat orang mau belajar, mau berusaha ?”

“Ya… perubahan yang sering mengakibatkan luka dan kecewa..”

“He..he..he..yang satu ini kamu belum berubah. Selalu dipenuhi dengan emosi, hati. Kegagalan yang selalu kamu timpakan sebagai ketidak mampuan. Kesalahan yang selalu kamu anggap sebagai ketidak-hati-hatian. Itu sangat bagus. Sangat bagus. karena dengan itu kamu mencoba memberikan beban agar lebih bisa berusaha. Beban yang memberi kamu isyarat untuk berhati-hati sebelum melakukan sesuatu. Tapi hanya disitu, berhenti disitu.” Aku mendengar dengan asyik.

“Coba kita simak kembali pengalaman yang kamu alami. Kegagalan kamu di Bandung membekas sangat dalam perasaanmu. Kesombongan yang membuat kamu gagal. Aku setuju dan itu sangat bisa memberikan kamu luka yang sangat dalam. Bertahun-tahun kamu baru bisa lepas dari rasa sesal. tapi setelah itu, apa yang kamu dapatkan dalam tiga tahun ? Hanya membuang kesempatan demi kesempatan yang mungkin memberikan peluang yang sangat luar biasa.” kami terdiam.

“Tapi sekarang, apa yang terjadi ? demikian hati-hatinya kamu atas setiap peluang yang muncul. demikian berharganya bagimu setiap detik yang akan kamu lalui. Satu persatu langkah untuk maju kamu tapaki dengan sabar. Itu yang menghantarmu sampai kepada keadaan sekarang… keyakinan bahwa peluang itu tidak pernah menunggumu dan menghampirimu. Tapi harus kamu raih dengan kerja keras, dengan sabar dan tekun”.

“Tapi aku semakin tidak yakin ?”

“tentang apa ?”

“tentang kemampuanku untuk tekun, untuk sabar dan tidak bereaksi berlebih”

“Itu bagus, kalau kamu tidak yakin. Karena itu akan memberikan kamu kesadaran yang lebih baik atas segala hasil yang kamu peroleh. Tidak yakin berhasil bukan berarti gagal kan ? Asal masih yakin bahwa kamu masih punya kemauan untuk berusaha. Cukup”

Kami terdiam cukup lama. hampir satu batang rokok ku habiskan ketika dia kembali bicara.

“Aku juga tercengang melihat mu beberapa minggu terakhir ini. Bahkan ragu, apakah kamu masih yang aku kenal. Tujuh belas tahun aku melihatmu dari jauh, penuh dengan semangat dan tidak mudah patah. Tapi tiba-tiba ketika kamu kembali, kecengengan, kelabilan itu kembali menguasai dirimu. bahkan teramat kuat, lebih kuat dari yang aku kenal dulu.

“Kalau dulu kamu cukup menangis, menyanyikan lagu sendu, merangkai kata demi kata. dan itu masih memberikan nilai tambah bagi dirimu. Orang masih menerima itu sebagai suatu ciri orang yang menuju kedewasaan.”

“Hari ini aku temukan jawabnya. Kecewa. Penyakit kamu yang utama itu tidak berubah. Kamu tidak akan pernah bisa kecewa pada orang lain, karena bagimu mereka hanyalah pelengkap.. dan bukan yang utama. Kamu akan tetap salahkan diri atas ’kegagalan’ harapan dan kenyataanmu. Kamu masih akan tetap merasa tidak mampu untuk melakukan semua yang ‘baik’ menurutmu. TIDAK. Yang tidak bisa kamu terima adalah “KECEWA” adalah suatu hasil. ” Aku mengangkat kepala menatapnya.

“Kegagalan adalah suatu hasil. Kesuksesan adalah suatu hasil. Tinggal kamu, diri kamu, hatimu dan pikiranmu, bagaimana menerima setiap hasil yang kamu hadapi. Aku tak kan mengutip pikiran orang yang menyatakan ” Kegagalan adalah sukses yang tertunda” . Kamu tidak menerima itu sebagai suatu yang original. Tapi yang ingin kukatakan, seperti dulu, ‘Janganlah menatap kelangit setiap saat, nanti langkahmu terantuk. Jangan tertunduk pula terus menerus nanti lehermu sakit. Menatap lurus kedepan, membuat matamu lelah.’ Coba untuk melihat seperlunya. Lihat lah ke bawah betapa banyak yang tidak mampu meraih yang telah kamu raih sekarang, kok kamu masih KECEWA ? Ketika kamu butuh semangat, lihat betapa banyak bintang yang harus kamu raih. ” Kami sama-sama terdiam.

“Kecewa itu memberikan saat untuk melihat kebelakang. Kecewa itu memberikan isyarat untuk lebih berusaha. Kecewa itu memberikan tambahan daya untuk tidak dikecewakan lagi. dan banyak hal yang dapat ditimbulkan oleh kecewa. TIDAK sekedar menangis dan menyesal…..

“KECEWA adalah hasil…….” gumanku perlahan, ketika harus meninggalkannya. “Belum yakin untuk bisa menerimanya, tapi paling tidak harus ada cara lain menerima kecewa daripada merusak hati, emosi dan langkah yang telah disusun.”

KANGEN (curhat) - February 27, 2006

Ini kali ke limas belas mail yang aku sudah buat, tidak jadi aku send dan juga ndak kubuang. Akhirnya di folder draft ada lima belas draft.

Dan baru hari ini aku sadari bahwa ke lima belas draft itu di tujukan untuk satu orang dan isi-nya ya… itu itu juga. Ya..merasa kehilangan dan tiba-tiba yang muncul adalah kenangan. KANGEN ?

Sering kali  kerinduan itu muncul baru ketika seseorang atau sesuatu itu telah benar-benar berlalu, tidak ada lagi. Tapi sesering itu pula seseorang itu atau sesuatu itu tergantikan sehingga perasaan seperti tadi, “kangen” tidak begitu terasa. ” You will be find something different without me” kayak gitulah. Tapi kalau ‘different’-nya ternyata bukanlah sesuatu yang lebih baik, maka yang ada adalah keinginan sekedar untuk mengenang kembali, atau bahkan berharap bisa kembali ke masa-masa itu.

Ach itukan mimpi. Ya,… tapi ternyata kita butuh juga mimpi, karena hanya mimpilah ‘dunia yang sempurna’. Tempat kita bisa menghilangkan segala hambatan atas sesuatu yang diinginkan. Ingin menjadi pengatur sekaligus pelaku, menjadi raja sekaligus hamba. Menciptakan tempat, keadaan yang sesuai dengan ‘ego’ yang dimiliki.

Keadaan itu kali yang membuat aku sampai lima belas kali ‘menulis’ untuknya, walaupun tak sekali punya keberanian untuk benar-benar mengirimkannya.

Aku mungkin lagi kangen, atas situasi yang memberi banyak ruang untuk berkomunikasi.
Aku mungkin rindu, atas sentuhan-sentuhan yang lebih manusiawi dan bersahabat.
Aku mungkin kangen atas kebebasan berekspresi dan mereprentasikan diri, mengabungkan warna-warna tanpa harus menghilangkan satu warna sekalipun sebagaimana indahnya pelangi.
Aku mungkin kangen untuk pembrontakan pembrontakan jiwa
Aku rindu, atas kebebasan mengepakkan sayap ke langit biru.
Aku rindu, atas aku yang dulu bisa benar-benar menjadi aku.

Salam Perpisahan - February 23, 2006

Rasanya ngak aneh dengan kata “perpisahan”, dengan usia yang seperti ini harusnya sudah terlalu sering mengalami perpisahan, baik karena keinginan untuk pergi atau memang ditinggal. Aneh kalau saat saat ini ada semacam rasa yang lain karena harus mengalami perpisahan.

Yang satu harus berpisah dengan seseorang yang baru masuk dalam Unit kerjaku. My boss, padahal sudah ketiga kalinya harus berpisah dengan atasan saya. Cuma kali ini benar-benar beda. Biasanya perpisahan dengan atasan adalah suatu hal yang membanggakan, karena mereka promosi. Kalau sekali ini memang benar-benar pensiun dan harus pamit dari pekerjaan sehari-hari. Artinya ndak ketemu seperti dulu-dulu.
Sudah tiga orang yang kurasakan menjadi atasan, baru kali ini ada yang komplit bisa menyentuh hari-hariku sebagai manusia dan sekaligus sebagai bawahan. Yang Pertama, very very special as human being, tapi jangan harap dia bisa bedakan hubungan personal dengan job. Semuanya sama. bahkan personal appreciation adalah juga company appreciation, susah. Yang kedua, lebih susah… rasanya yang ada hanya ‘meraba-raba’ ndak pernah pasti. Aktif takut salah, diam apalagi.

Yang satu lagi, bukan satu orang tapi kelompok karena lebih dari satu orang. The Young Guns, yang masih penuh dengan idealisme dan semangat mencari jati diri sehingga ndak berenti untuk bereksperimen. Teman yang enak diajak diskusi tentang sesuatu yang ‘bukan pakemnya’, sesuatu yang lain dan baru dan ’segan’ untuk mengikuti ‘jalan tikus’.

Dua-duanya punya warna, dua-duanya punya kesan tersendiri dalam pergaulan sehari-hari. Tetapi yang utama harusnya ada yang dapat dipelajari sebagai salam perpisahan dari “Bapak dan sahabat” yang akan pergi.

Tak terpungkiri banyak kesan yang akan menjadi added value dalam perjalanan ke depan. Ketenangan dan wisdom yang telah ditunjukkan harusnya bisa menjadi contoh untuk membangun karir kedepan. Ketenangan memberikan kita nafas untuk menahan kecewa dan keterpurukan emosi. Sedangkan wisdom memberi kita kesempatan untuk sekedar ‘bicara’ sebelum memutuskan bereaksi.

Mencari solusi alternatif merupakan hal lain yang patut dipertimbangkan. Yang paling sulit untuk diterima dalam konsep ini adalah berdamai dengan solusi yg memberi result yang lebih rendah dari pilihan yang seharusnya. rasanya seperti orang bodoh menerima solusi alternatif yang justru mereduksi hasil yang optimal, tapi itu adalah kompromi. Ya… kompromi agar semua bisa menerima nya. Ini yang aku belum pernah mampu terima dan lakukan, “kompromi“, karena kompromi harus diikuti dengan ‘korban ‘. Tapi ternyata dengan konsep ini lebih banyak hal yang justru bisa diselesaikan.

Yang terbaik, belum tentu yang paling berhasil, yang harus adalah melakukan yang terbaik.  Kenyataannya yang berhasil adalah yang bisa ‘tune-in’ dengan system dan lingkungan. Pembrontakan terhadap system hanya memberi tambahan beban yang tidak memberikan sesuatu, karena kita bukan system itu sendiri. Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan system dan lingkungannya adalah perilaku ‘cerdik’, bukan penghianatan terhadap diri sendiri. Tapi menyesuaikan diri agar dapat melakukan yang terbaik bagi diri sendiri dan orang lain adalah kemampuan terbaik untuk survive dan moving forward.

Nrimo bukan berarti pasrah, ambisi bukan berarti keharusan. Ternyata ada beda antara nrimo dengan pasrah. Kalau selama ini kedua kata ini sangat identik-sinonim, bulan-bulan terakhir ini baru mulai mengerti perbedaannya. Pasrah itu tanpa perhitungan, sedangkan nrimo itu dengan dasar perhitungan. Jauh berbeda. nrimo itu justru adalah kedewasaan untuk mampu untuk melihat kenyataan yang sebenarnya. Apa itu keberhasilan maupun kegagalan, suka atau duka. Dengan pemahaman atas kekuatan dan kelemahan, maka kita baru bisa nrimo. Tanpa itu kita hanya lah sekedar pasrah tanpa keinginan.

Terakhir, HIDUP ADALAH MEMILIH, dan MEMILIH itu tidak gratis. Ya.. hidup adalah memilih.
Memilih bertahan sampai pensiun adalah suatu pilihan yang sangat indah. Kenyataannya mampu untuk melewati semua pasang surut waktu yang demikian panjang, 28 tahun. Tak terbanyang betapa banyak kecewa, tawa, kegagalan dan keberhasilan yang dicapai dalam kurun waktu itu. Tanpa cacat dan rasa takut yang menghantui. Maka saya hanya bisa sampaikan “Selamat, Bapak berhasil melewati satu phase dari hidup ini. Semoga Tuhan juga yang menyertai dalam phase selanjutnya.”

Memilih untuk pergi sebelum pensiun juga adalah pilihan yang sangat bagus. Karena didasari dengan segala macam perhitungan dan pertimbangan atas pilihan-pilihan yang ada. Dorongan untuk mendapatkan tingkat ‘kepuasan’ yang lebih, memberikan banyak energi tambahan untuk dapat menanggung beban yang lebih. No pain no gain. Tapi sangat naif juga kalau karena ketakutan atas beban yang mungkin muncul mematikan motivasi untuk meraih hasil yang lebih baik dan sesuai dengan hati. Maka yang bisa saya sampaikan, “Selamat anda telah memilih suatu yang lebih sesuai untuk anda. bertahan dan tetap semangat dalam pilihan dapat memberikan tolok ukur yang nyata atas keyakinan dan keberhasilan anda. Kiranya Tuhan yang menemani dalam tantangan hidup yang telah dipilih”.

Dan AKU, aku memilih tetap disini, dan tidak tahu sampai kapan. Banyak hal yang telah kuperoleh disini. Sama, senang dan kecewa, gagal dan berhasil silih berganti. Tidak yakin sampai pensiun, tapi sampai waktunya tiba harus memilih untuk pergi, aku akan mempelajari banyak hal yang baru hari-hari kedepan ini.
Terima kasih atas waktu yang telah kita bagi bersama, terima kasih atas pengalaman-pengalaman yang memberi arti bagi kita masing-masing. Selamat menjalani pilhan yang terlah kita pilih. Salute and keep in touch.

Prolog - January 16, 2006

“Butuh keberanian untuk mengawali sesuatu, bahkan sekedar memikirkannya pun kamu harus punya keberanian”.

Itu kalimat pertama yang terdengar, dan aku hanya terdiam. Dua tiga kali terdengar helaan nafasnya yang mulai berat tertekan perasaan.

“Sama seperti saat kamu memutuskan pergi untuk berpisah, dan sekarang kembali, tak ada yang dapat kulakukan untuk membantu.” Aku masih terdiam.

Lalu berlarian kembali semua yang dulu pernah ada. Kemesraan, kebersamaan dan kesetiaan. Tiada hari yang terlewati tanpa dirinya. Tanpa batas waktu dan tempat, dia selalu saja ada, tanpa keluhan, bahkan tanpa emosi. Tiada duka yang tidak kuceritakan padanya, bahkan aku bisa berjam-jam dalam satu hari bercerita, dan dia hanya mendengar, mendengar tanpa pernah menyela. Membiarkan aku menghanyutkan segalanya dalam air mata membasahi dirinya, bahkan ikut meleburkan diri didalamnya. Ketika terjatuh dan gagal, dia akan setia menyemangati walau hanya sekedar bisikan bisu dengan membiarkanku terdiam seolah mengacuhkan kehadirannya. Membelai kepalaku dalam pelukannya dan perlahan membawaku kembali bangun dan berdiri. Matanya berbinar penuh semangat mendengar cerita tentang hati yang berbunga, tentang mimpi-mimpi dan harapanku. Menatapku dengan sinar mata yang menenangkan. Tak mengeluh walau harus yang terakhir tahu akan keberhasilan yang kuraih, tetapi yang justru pertama tahu ketika aku gagal, senyum tak lepas dari bibirnya.

“Kamu masih seperti yang dulu ” suara nya memutus pikiranku, aku menatapnya. ”Ceritalah ” lanjutnya .

Aku masih menatapnya dalam ragu. Setelah bertahun-tahun kutinggalkan dia masih seperti dulu, siap untuk mendengar. ” Aku ingin mendengar ceritamu” , lirih tersekat suaraku.

“Kisahku hanya masa lalu, itu akan membosankan.” Aku rebahan di pangkuannya, diam menunggu. “Terakhir kamu menyapaku tahun 1988. ”

Aku kaget, “tujuh belas tahun !?”

 “Ya tujuh belas tahun ! Sejak itu aku hanya menatapmu dari jauh. Melihat satu persatu hari-hari terlewati tanpa ku. ”