“Butuh keberanian untuk mengawali sesuatu, bahkan sekedar memikirkannya pun kamu harus punya keberanian”.
Itu kalimat pertama yang terdengar, dan aku hanya terdiam. Dua tiga
kali terdengar helaan nafasnya yang mulai berat tertekan perasaan.
“Sama seperti saat kamu memutuskan pergi untuk berpisah, dan sekarang
kembali, tak ada yang dapat kulakukan untuk membantu.” Aku masih
terdiam.
Lalu berlarian kembali semua yang dulu pernah ada. Kemesraan,
kebersamaan dan kesetiaan. Tiada hari yang terlewati tanpa dirinya.
Tanpa batas waktu dan tempat, dia selalu saja ada, tanpa keluhan, bahkan
tanpa emosi. Tiada duka yang tidak kuceritakan padanya, bahkan aku bisa
berjam-jam dalam satu hari bercerita, dan dia hanya mendengar,
mendengar tanpa pernah menyela. Membiarkan aku menghanyutkan segalanya
dalam air mata membasahi dirinya, bahkan ikut meleburkan diri
didalamnya. Ketika terjatuh dan gagal, dia akan setia menyemangati walau
hanya sekedar bisikan bisu dengan membiarkanku terdiam seolah
mengacuhkan kehadirannya. Membelai kepalaku dalam pelukannya dan
perlahan membawaku kembali bangun dan berdiri. Matanya berbinar penuh
semangat mendengar cerita tentang hati yang berbunga, tentang
mimpi-mimpi dan harapanku. Menatapku dengan sinar mata yang menenangkan.
Tak mengeluh walau harus yang terakhir tahu akan keberhasilan yang
kuraih, tetapi yang justru pertama tahu ketika aku gagal, senyum tak
lepas dari bibirnya.
“Kamu masih seperti yang dulu ” suara nya memutus pikiranku, aku menatapnya. ”Ceritalah ” lanjutnya .
Aku masih menatapnya dalam ragu. Setelah bertahun-tahun kutinggalkan
dia masih seperti dulu, siap untuk mendengar. ” Aku ingin mendengar
ceritamu” , lirih tersekat suaraku.
“Kisahku hanya masa lalu, itu akan membosankan.” Aku rebahan di
pangkuannya, diam menunggu. “Terakhir kamu menyapaku tahun 1988. ”
Aku kaget, “tujuh belas tahun !?”
“Ya tujuh belas tahun ! Sejak itu aku hanya menatapmu dari jauh. Melihat satu persatu hari-hari terlewati tanpa ku. ”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar