Dua bulan ini rasanya sangat panjang dan
berat. Banyak hal yang membuat semuanya serba mendesak. Akhir tahun
memang selalu penuh dengan tekanan, tapi akhir tahun ini benar benar
lain. Gile.. pada saat yang bersamaan pikiran butek hati bete dan jomblo
lagi, istilah abg. ya.. malah mungkin lebih jomblo karena rasanya tidak
bisa berbagi dengan siapa.
Night
Live atau dugem sudah barang jamak sebagai solusi under pressure dan
menghindari three in one atau jammed traffic. Tapi sore ini rasanya
pengen sendiri saja. Tumben timbul keenganan untuk kumpul atau jalan
bareng. Aneh… tiba tiba ada rindu untuk sendiri padahal aku disini juga
bersama sama dengan mereka. Sendiri dalam keramaian… hal paling sering
kulakukan. Disini semuanya sibuk sendiri, acuh dan tak perlu merasa ada
yang terganggu. Paling satu dua yang sudah saling kenal saling nyapa
lalu tenggelam dengan keasyikannya sendiri.
“Special
song for someone, this is your favorit song”, aku menoleh sejenak ke
panggung dan mengalun dengan manis “My way” - ku. “And now ……. “
“Sing isn’t a song” tiba tiba aku teringat jawabnya ketika mulai beragumen.
“Berapa
banyak yang kamu ingat nyanyian yang indah, enak didengar, dan berkesan
? Pasti lebih sedikit yang kamu ingat siapa penyanyinya, dan kalau
penciptanya ? Mungkin malah kita tidak pernah punya keinginan untuk
mengetahui dan mengingatnya. Kita terbiasa untuk bisa menyanyikan sebuah
nyanyian tanpa tahu siapa penciptanya. Kita terbiasa tertarik sebuah
nyanyian karena penyanyinya atau liriknya, bukan penciptanya.
Nah.. kemana nih arahnya ?
“Kita
terbiasa menangkap hasil dibanding proses. Tiba-tiba saja kita bisa
‘seolah-olah’ mampu menyanyikan suatu nyanyian dengan bagus, bahkan
lebih bagus dari penyanyinya, tanpa menyadari waktu yang kita butuhkan
untuk mendengar, mencoba menyanyikan, menghapalkan liriknya.
“Lha memang tujuannya adalah hasil” sambarku tanpa sadar.
“Ya…
selalu dan selalu tujuan akhir adalah hasil. Tidak ada artinya kalau
tidak ada tujuan akhir. Tapi mana yang utama, hasil atau proses ? Mana
yang lebih dominan terhadap tujuan, hasil atau proses ? “ Aku diam.
“ Hasil adalah tujuan akhir, tapi tidak akan pernah berakhir.” Aku mengikuti ketika ia mulai menyulut sebatang rokok.
“
Ketika kita mencoba sebuah nyanyian, awalnya kita masih terpatah-patah
dengan liriknya, malah terkadang false terhadap rithme. Kadang kecepatan
kadang terlambat. “ Dia menatapku. “Menurutmu apa yang membuat akhirnya
bisa menyanyikan sebuah lagu walau kamu tidak pernah melihat
partiturnya ?”
“Mendengarkan kembali, mencoba dan mencoba.”
“Kok mau mencoba dan mengulang ulang kembali”
“Ada dorongan keinginan untuk dapat menyanyikan nyanyian itu.”
“Itu
dia, keinginan sendiri bukan orang lain. Keinginan hati bukan pikiran.
Mana yang lebih kamu nikmati, ketika sudah berhasil atau ketika masih
mencoba ?”
“Ketika
berhasil.” Dia menatapku lagi, “pernah gagal untuk mencoba suatu
nyanyian yang sudah menarik perhatian atau perasaanmu ?”
‘Sering, bahkan tidak banyak nyanyian yang bisa kunyanyikan tanpa bantuan teksnya.”
“Lalu……” aku hanya terdiam. “nikmati walau hanya waktu refrein nya saja”
“Menyanyi
merupakan proses.Dalam proses selalu saja ada hal-hal yang
mempengaruhi. Seorang seniman membutuhkan hati untuk mencipta.
Membutuhkan dorongan jiwa yang kadang malah menghanyutkan dalam
perasaan. Berhari-hari, berbulan bulan bahkan mungkin tahunan mereka
mengendapkan rasa yang ingin diwujudkan dalam bentuk hasil yang kita
nikmati. Tapi mereka hanya harus mencipta, tidak memperdulikan bahwa
hasil ciptaannya akan memberikan hasil yang sesuai dengan jerih
payahnya. Yang mereka yakini mereka harus melakukan proses itu.
Terkadang malah hasilnya mereka campakkan terbuang percuma, tidak sesuai
dengan rasa yang mereka miliki. Dan kita hanya melihat hasilnya sebuah
karya seni yang mungkin malah adalah gambaran rasa yang tdk mampu kita
lepas. “
“Hidup
memberi kehidupan.” Aku menunggu lanjutannya.”Hidup bukanlah kehidupan.
Hidup hanyalah proses yang harus dilalui, tidak bisa tidak. Seperti
menyanyi. Kita gunakan hati, dan suarakan hati, ukurannya hati. Hidup
adalah senandung nurani yang terkadang kita sendiri tidak sadari
menorehkan banyak rasa. Dan rasa itu, kita sering katakan sebagai
kehidupan. Kehidupan yang kadang melengking tinggi, kadang nada rendah,
kadang dengan ritme yang cepat, kadang sedang malah melambat. Terkadang
kita tidak mampu untuk mengikuti semuanya sehingga hanya ikut di refrein
saja, terkadang kita mampu bahkan dengan improvisasi yang jauh lebih
baik lagi. Yang kita punya hanya proses, sedangkan hasil hanya suatu
batasan tahapan yang harus dilalui.
Ibarat
menuju suatu pintu. Pintu bukan lah akhir dari suatu perjalanan, tetapi
mungkin bahkan awal dari seluruh awal perjalanan yang harus kita
lewati. Dibalik pintu satu mungkin ada ruangan besar yang memberi kita
ruang yang cukup untuk beristrahat sejenak, atau justru jalan raya yang
sudah macet, atau mungkin malah persimpangan yang memberi kita
pilihan-pilihan.
“
Hidup adalah proses. Nyanyikanlah senandung hatimu, tidak perlu ragu
walau kadang nada tingginya terasa sumbang, atau ritmenya harus
kecepatan atau telat. Banggalah dengan pilihanmu, sebab hidupmu bukan
hidup siapa siapa. Hasilnya ….. ?”
Dia berhenti dan membiarkan aku mencoba jawaban yang kumiliki sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar