Kamis, 20 Oktober 2016

Hidup & Kehidupan - December 28, 2005

Dua bulan ini rasanya sangat panjang dan berat. Banyak hal yang membuat semuanya serba mendesak. Akhir tahun memang selalu penuh dengan tekanan, tapi akhir tahun ini benar benar lain. Gile.. pada saat yang bersamaan pikiran butek hati bete dan jomblo lagi, istilah abg. ya.. malah mungkin lebih jomblo karena rasanya tidak bisa berbagi dengan siapa. 
 
Night Live atau dugem sudah barang jamak sebagai solusi under pressure dan menghindari  three in one atau jammed traffic. Tapi sore ini rasanya pengen sendiri saja. Tumben timbul keenganan untuk kumpul atau jalan bareng. Aneh… tiba tiba ada rindu untuk sendiri padahal aku disini juga bersama sama dengan mereka. Sendiri dalam keramaian… hal paling sering kulakukan. Disini semuanya sibuk sendiri, acuh dan tak perlu merasa ada yang terganggu. Paling satu dua yang sudah saling kenal saling nyapa lalu tenggelam dengan keasyikannya sendiri. 

“Special song for someone, this is your favorit song”, aku menoleh sejenak ke panggung dan mengalun dengan manis “My way” - ku. “And now ……. “ 

“Sing isn’t a song” tiba tiba aku teringat jawabnya ketika mulai beragumen. 

 “Berapa banyak yang kamu ingat nyanyian yang indah, enak didengar, dan berkesan ? Pasti lebih sedikit yang kamu ingat siapa penyanyinya, dan kalau penciptanya ? Mungkin malah kita tidak pernah punya keinginan untuk mengetahui dan mengingatnya. Kita terbiasa untuk bisa menyanyikan sebuah nyanyian tanpa tahu siapa penciptanya.  Kita terbiasa tertarik sebuah nyanyian karena penyanyinya atau liriknya, bukan penciptanya. 

Nah.. kemana nih arahnya ? 

 “Kita terbiasa menangkap hasil dibanding proses. Tiba-tiba saja kita bisa ‘seolah-olah’ mampu menyanyikan suatu nyanyian dengan bagus, bahkan lebih bagus dari penyanyinya, tanpa menyadari waktu yang kita butuhkan untuk mendengar, mencoba menyanyikan, menghapalkan liriknya. 

“Lha memang tujuannya adalah hasil” sambarku tanpa sadar. 

“Ya… selalu dan selalu tujuan akhir adalah hasil. Tidak ada artinya kalau tidak ada tujuan akhir. Tapi mana yang utama, hasil atau proses ? Mana yang lebih dominan terhadap tujuan, hasil atau proses ? “ Aku diam. 

“ Hasil adalah tujuan akhir, tapi tidak akan pernah berakhir.” Aku mengikuti ketika ia mulai menyulut sebatang rokok. 

“ Ketika kita mencoba sebuah nyanyian, awalnya kita masih terpatah-patah dengan liriknya, malah terkadang false terhadap rithme. Kadang kecepatan kadang terlambat. “ Dia menatapku. “Menurutmu apa yang membuat akhirnya bisa menyanyikan sebuah lagu walau kamu tidak pernah melihat partiturnya ?”  

“Mendengarkan kembali, mencoba dan mencoba.” 

“Kok mau mencoba dan mengulang ulang kembali” 

“Ada dorongan keinginan untuk dapat menyanyikan nyanyian itu.” 

“Itu dia, keinginan sendiri bukan orang lain. Keinginan hati bukan pikiran. Mana yang lebih kamu nikmati, ketika sudah berhasil atau ketika masih mencoba ?”

“Ketika berhasil.” Dia menatapku lagi, “pernah gagal untuk mencoba suatu nyanyian yang sudah menarik perhatian atau perasaanmu ?” 

‘Sering, bahkan tidak banyak nyanyian yang bisa kunyanyikan tanpa bantuan teksnya.” 

“Lalu……” aku hanya terdiam. “nikmati walau hanya waktu refrein nya saja” 

 “Menyanyi merupakan proses.Dalam proses selalu saja ada hal-hal yang mempengaruhi. Seorang seniman membutuhkan hati untuk mencipta. Membutuhkan dorongan jiwa yang kadang malah menghanyutkan dalam perasaan. Berhari-hari, berbulan bulan bahkan mungkin tahunan mereka mengendapkan rasa yang ingin diwujudkan dalam bentuk hasil yang kita nikmati. Tapi mereka  hanya harus mencipta, tidak memperdulikan bahwa hasil ciptaannya akan memberikan hasil yang sesuai dengan jerih payahnya. Yang mereka yakini mereka harus melakukan proses itu. Terkadang malah hasilnya mereka campakkan terbuang percuma, tidak sesuai dengan rasa yang mereka miliki. Dan kita hanya melihat hasilnya sebuah karya seni yang mungkin malah adalah gambaran rasa yang tdk mampu kita lepas. “ 

“Hidup memberi kehidupan.” Aku menunggu lanjutannya.”Hidup bukanlah kehidupan. Hidup hanyalah proses yang harus dilalui, tidak bisa tidak. Seperti menyanyi. Kita gunakan hati, dan suarakan hati, ukurannya hati. Hidup adalah senandung nurani yang terkadang kita sendiri tidak sadari menorehkan banyak rasa. Dan rasa itu, kita sering katakan sebagai kehidupan. Kehidupan yang kadang melengking tinggi, kadang nada rendah, kadang dengan ritme yang cepat, kadang sedang malah melambat. Terkadang kita tidak mampu untuk mengikuti semuanya sehingga hanya ikut di refrein saja, terkadang kita mampu bahkan dengan improvisasi yang jauh lebih baik lagi. Yang kita punya hanya proses, sedangkan hasil hanya suatu batasan tahapan yang harus dilalui. 

Ibarat menuju suatu pintu. Pintu bukan lah akhir dari suatu perjalanan, tetapi mungkin bahkan awal dari seluruh awal perjalanan yang harus kita lewati. Dibalik pintu satu mungkin ada ruangan besar yang memberi kita ruang yang cukup untuk beristrahat sejenak, atau justru jalan raya yang sudah macet, atau mungkin malah persimpangan yang memberi kita pilihan-pilihan. 

“  Hidup adalah proses. Nyanyikanlah senandung hatimu, tidak perlu ragu walau kadang nada tingginya terasa sumbang, atau ritmenya harus kecepatan atau telat. Banggalah dengan pilihanmu, sebab hidupmu bukan hidup siapa siapa. Hasilnya …..  ?” 

Dia berhenti dan membiarkan aku mencoba jawaban yang kumiliki sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar