Rasanya ngak aneh dengan kata “perpisahan”, dengan usia yang seperti
ini harusnya sudah terlalu sering mengalami perpisahan, baik karena
keinginan untuk pergi atau memang ditinggal. Aneh kalau saat saat ini
ada semacam rasa yang lain karena harus mengalami perpisahan.
Yang satu harus berpisah dengan seseorang yang baru masuk dalam Unit
kerjaku. My boss, padahal sudah ketiga kalinya harus berpisah dengan
atasan saya. Cuma kali ini benar-benar beda. Biasanya perpisahan dengan
atasan adalah suatu hal yang membanggakan, karena mereka promosi. Kalau
sekali ini memang benar-benar pensiun dan harus pamit dari pekerjaan
sehari-hari. Artinya ndak ketemu seperti dulu-dulu.
Sudah tiga orang yang kurasakan menjadi atasan, baru kali ini ada
yang komplit bisa menyentuh hari-hariku sebagai manusia dan sekaligus
sebagai bawahan. Yang Pertama, very very special as human being, tapi
jangan harap dia bisa bedakan hubungan personal dengan job. Semuanya
sama. bahkan personal appreciation adalah juga company appreciation,
susah. Yang kedua, lebih susah… rasanya yang ada hanya ‘meraba-raba’
ndak pernah pasti. Aktif takut salah, diam apalagi.
Yang satu lagi, bukan satu orang tapi kelompok karena lebih dari satu
orang. The Young Guns, yang masih penuh dengan idealisme dan semangat
mencari jati diri sehingga ndak berenti untuk bereksperimen. Teman yang
enak diajak diskusi tentang sesuatu yang ‘bukan pakemnya’, sesuatu yang
lain dan baru dan ’segan’ untuk mengikuti ‘jalan tikus’.
Dua-duanya punya warna, dua-duanya punya kesan tersendiri
dalam pergaulan sehari-hari. Tetapi yang utama harusnya ada yang dapat
dipelajari sebagai salam perpisahan dari “Bapak dan sahabat” yang akan
pergi.
Tak terpungkiri banyak kesan yang akan menjadi added value dalam
perjalanan ke depan. Ketenangan dan wisdom yang telah ditunjukkan
harusnya bisa menjadi contoh untuk membangun karir kedepan. Ketenangan
memberikan kita nafas untuk menahan kecewa dan keterpurukan emosi.
Sedangkan wisdom memberi kita kesempatan untuk sekedar ‘bicara’ sebelum
memutuskan bereaksi.
Mencari solusi alternatif merupakan hal lain yang patut
dipertimbangkan. Yang paling sulit untuk diterima dalam konsep ini
adalah berdamai dengan solusi yg memberi result yang lebih rendah dari
pilihan yang seharusnya. rasanya seperti orang bodoh menerima solusi
alternatif yang justru mereduksi hasil yang optimal, tapi itu adalah
kompromi. Ya… kompromi agar semua bisa menerima nya. Ini yang aku belum
pernah mampu terima dan lakukan, “kompromi“, karena
kompromi harus diikuti dengan ‘korban ‘. Tapi ternyata dengan konsep ini
lebih banyak hal yang justru bisa diselesaikan.
Yang terbaik, belum tentu yang paling berhasil, yang harus adalah
melakukan yang terbaik. Kenyataannya yang berhasil adalah yang bisa
‘tune-in’ dengan system dan lingkungan. Pembrontakan terhadap system
hanya memberi tambahan beban yang tidak memberikan sesuatu, karena kita
bukan system itu sendiri. Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan
system dan lingkungannya adalah perilaku ‘cerdik’, bukan penghianatan
terhadap diri sendiri. Tapi menyesuaikan diri agar dapat melakukan yang
terbaik bagi diri sendiri dan orang lain adalah kemampuan terbaik untuk
survive dan moving forward.
Nrimo bukan berarti pasrah, ambisi bukan berarti keharusan. Ternyata
ada beda antara nrimo dengan pasrah. Kalau selama ini kedua kata ini
sangat identik-sinonim, bulan-bulan terakhir ini baru mulai mengerti
perbedaannya. Pasrah itu tanpa perhitungan, sedangkan nrimo itu dengan
dasar perhitungan. Jauh berbeda. nrimo itu justru adalah kedewasaan
untuk mampu untuk melihat kenyataan yang sebenarnya. Apa itu
keberhasilan maupun kegagalan, suka atau duka. Dengan pemahaman atas
kekuatan dan kelemahan, maka kita baru bisa nrimo. Tanpa itu kita hanya
lah sekedar pasrah tanpa keinginan.
Terakhir, HIDUP ADALAH MEMILIH, dan MEMILIH itu tidak gratis. Ya.. hidup adalah memilih.
Memilih bertahan sampai pensiun adalah suatu pilihan yang sangat
indah. Kenyataannya mampu untuk melewati semua pasang surut waktu yang
demikian panjang, 28 tahun. Tak terbanyang betapa banyak kecewa, tawa,
kegagalan dan keberhasilan yang dicapai dalam kurun waktu itu. Tanpa
cacat dan rasa takut yang menghantui. Maka saya hanya bisa sampaikan
“Selamat, Bapak berhasil melewati satu phase dari hidup ini. Semoga
Tuhan juga yang menyertai dalam phase selanjutnya.”
Memilih untuk pergi sebelum pensiun juga adalah pilihan yang sangat
bagus. Karena didasari dengan segala macam perhitungan dan pertimbangan
atas pilihan-pilihan yang ada. Dorongan untuk mendapatkan tingkat
‘kepuasan’ yang lebih, memberikan banyak energi tambahan untuk dapat
menanggung beban yang lebih. No pain no gain. Tapi sangat naif juga
kalau karena ketakutan atas beban yang mungkin muncul mematikan motivasi
untuk meraih hasil yang lebih baik dan sesuai dengan hati. Maka yang
bisa saya sampaikan, “Selamat anda telah memilih suatu yang lebih sesuai
untuk anda. bertahan dan tetap semangat dalam pilihan dapat memberikan
tolok ukur yang nyata atas keyakinan dan keberhasilan anda. Kiranya
Tuhan yang menemani dalam tantangan hidup yang telah dipilih”.
Dan AKU, aku memilih tetap disini, dan tidak tahu sampai kapan.
Banyak hal yang telah kuperoleh disini. Sama, senang dan kecewa, gagal
dan berhasil silih berganti. Tidak yakin sampai pensiun, tapi sampai
waktunya tiba harus memilih untuk pergi, aku akan mempelajari banyak hal
yang baru hari-hari kedepan ini.
Terima kasih atas waktu yang telah kita bagi bersama, terima kasih
atas pengalaman-pengalaman yang memberi arti bagi kita masing-masing.
Selamat menjalani pilhan yang terlah kita pilih. Salute and keep in
touch.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar