Kamis, 20 Oktober 2016

Salam Perpisahan - February 23, 2006

Rasanya ngak aneh dengan kata “perpisahan”, dengan usia yang seperti ini harusnya sudah terlalu sering mengalami perpisahan, baik karena keinginan untuk pergi atau memang ditinggal. Aneh kalau saat saat ini ada semacam rasa yang lain karena harus mengalami perpisahan.

Yang satu harus berpisah dengan seseorang yang baru masuk dalam Unit kerjaku. My boss, padahal sudah ketiga kalinya harus berpisah dengan atasan saya. Cuma kali ini benar-benar beda. Biasanya perpisahan dengan atasan adalah suatu hal yang membanggakan, karena mereka promosi. Kalau sekali ini memang benar-benar pensiun dan harus pamit dari pekerjaan sehari-hari. Artinya ndak ketemu seperti dulu-dulu.
Sudah tiga orang yang kurasakan menjadi atasan, baru kali ini ada yang komplit bisa menyentuh hari-hariku sebagai manusia dan sekaligus sebagai bawahan. Yang Pertama, very very special as human being, tapi jangan harap dia bisa bedakan hubungan personal dengan job. Semuanya sama. bahkan personal appreciation adalah juga company appreciation, susah. Yang kedua, lebih susah… rasanya yang ada hanya ‘meraba-raba’ ndak pernah pasti. Aktif takut salah, diam apalagi.

Yang satu lagi, bukan satu orang tapi kelompok karena lebih dari satu orang. The Young Guns, yang masih penuh dengan idealisme dan semangat mencari jati diri sehingga ndak berenti untuk bereksperimen. Teman yang enak diajak diskusi tentang sesuatu yang ‘bukan pakemnya’, sesuatu yang lain dan baru dan ’segan’ untuk mengikuti ‘jalan tikus’.

Dua-duanya punya warna, dua-duanya punya kesan tersendiri dalam pergaulan sehari-hari. Tetapi yang utama harusnya ada yang dapat dipelajari sebagai salam perpisahan dari “Bapak dan sahabat” yang akan pergi.

Tak terpungkiri banyak kesan yang akan menjadi added value dalam perjalanan ke depan. Ketenangan dan wisdom yang telah ditunjukkan harusnya bisa menjadi contoh untuk membangun karir kedepan. Ketenangan memberikan kita nafas untuk menahan kecewa dan keterpurukan emosi. Sedangkan wisdom memberi kita kesempatan untuk sekedar ‘bicara’ sebelum memutuskan bereaksi.

Mencari solusi alternatif merupakan hal lain yang patut dipertimbangkan. Yang paling sulit untuk diterima dalam konsep ini adalah berdamai dengan solusi yg memberi result yang lebih rendah dari pilihan yang seharusnya. rasanya seperti orang bodoh menerima solusi alternatif yang justru mereduksi hasil yang optimal, tapi itu adalah kompromi. Ya… kompromi agar semua bisa menerima nya. Ini yang aku belum pernah mampu terima dan lakukan, “kompromi“, karena kompromi harus diikuti dengan ‘korban ‘. Tapi ternyata dengan konsep ini lebih banyak hal yang justru bisa diselesaikan.

Yang terbaik, belum tentu yang paling berhasil, yang harus adalah melakukan yang terbaik.  Kenyataannya yang berhasil adalah yang bisa ‘tune-in’ dengan system dan lingkungan. Pembrontakan terhadap system hanya memberi tambahan beban yang tidak memberikan sesuatu, karena kita bukan system itu sendiri. Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan system dan lingkungannya adalah perilaku ‘cerdik’, bukan penghianatan terhadap diri sendiri. Tapi menyesuaikan diri agar dapat melakukan yang terbaik bagi diri sendiri dan orang lain adalah kemampuan terbaik untuk survive dan moving forward.

Nrimo bukan berarti pasrah, ambisi bukan berarti keharusan. Ternyata ada beda antara nrimo dengan pasrah. Kalau selama ini kedua kata ini sangat identik-sinonim, bulan-bulan terakhir ini baru mulai mengerti perbedaannya. Pasrah itu tanpa perhitungan, sedangkan nrimo itu dengan dasar perhitungan. Jauh berbeda. nrimo itu justru adalah kedewasaan untuk mampu untuk melihat kenyataan yang sebenarnya. Apa itu keberhasilan maupun kegagalan, suka atau duka. Dengan pemahaman atas kekuatan dan kelemahan, maka kita baru bisa nrimo. Tanpa itu kita hanya lah sekedar pasrah tanpa keinginan.

Terakhir, HIDUP ADALAH MEMILIH, dan MEMILIH itu tidak gratis. Ya.. hidup adalah memilih.
Memilih bertahan sampai pensiun adalah suatu pilihan yang sangat indah. Kenyataannya mampu untuk melewati semua pasang surut waktu yang demikian panjang, 28 tahun. Tak terbanyang betapa banyak kecewa, tawa, kegagalan dan keberhasilan yang dicapai dalam kurun waktu itu. Tanpa cacat dan rasa takut yang menghantui. Maka saya hanya bisa sampaikan “Selamat, Bapak berhasil melewati satu phase dari hidup ini. Semoga Tuhan juga yang menyertai dalam phase selanjutnya.”

Memilih untuk pergi sebelum pensiun juga adalah pilihan yang sangat bagus. Karena didasari dengan segala macam perhitungan dan pertimbangan atas pilihan-pilihan yang ada. Dorongan untuk mendapatkan tingkat ‘kepuasan’ yang lebih, memberikan banyak energi tambahan untuk dapat menanggung beban yang lebih. No pain no gain. Tapi sangat naif juga kalau karena ketakutan atas beban yang mungkin muncul mematikan motivasi untuk meraih hasil yang lebih baik dan sesuai dengan hati. Maka yang bisa saya sampaikan, “Selamat anda telah memilih suatu yang lebih sesuai untuk anda. bertahan dan tetap semangat dalam pilihan dapat memberikan tolok ukur yang nyata atas keyakinan dan keberhasilan anda. Kiranya Tuhan yang menemani dalam tantangan hidup yang telah dipilih”.

Dan AKU, aku memilih tetap disini, dan tidak tahu sampai kapan. Banyak hal yang telah kuperoleh disini. Sama, senang dan kecewa, gagal dan berhasil silih berganti. Tidak yakin sampai pensiun, tapi sampai waktunya tiba harus memilih untuk pergi, aku akan mempelajari banyak hal yang baru hari-hari kedepan ini.
Terima kasih atas waktu yang telah kita bagi bersama, terima kasih atas pengalaman-pengalaman yang memberi arti bagi kita masing-masing. Selamat menjalani pilhan yang terlah kita pilih. Salute and keep in touch.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar