Kamis, 20 Oktober 2016

Langit malam jakarta (continued) - July 04 2006

Kompleks Semanggi, akhirnya kami tinggalkan.”Terlalu terbuka dan suasananya terlalu hingar bingar.” Katanya beralasan

Lalu mutar ke arah senayan, Taman Ria. Itu juga akhirnya kami tinggalkan, “Ini cocoknya buat yang memadu kasih”, setelah kami masuk dan mau ambil duduk. So… aku juga ikut bingung.

“Gimana kalau Menteng ?” usulku akhirnya, “rasanya tempat itu bukan tempat memadu kasih dan tidak terlalu hingar bingar, minimal buat nostagia lah.”

“Lha… kalau cuma nemanin kamu dalam bisu, kok harus kesini ya…” akhirnya tak kuat juga mengikutinya membisu sekian lama di MP, bahkan gelas pertamaku pun sudah hampir kosong.

“Rasanya betul aku jadi bernostagia disini… Lagu yang barusan membuat aku seakan kembali ke jaman yang tak bisa kulupakan.” Suaranya lirih.

“Kamu mau cerita tentang itu ?” tanyaku memancing.

“he…he… ngak lah.. hal itu tak membuat suasananya lebih baik kan ?”

“Yah..… dari tadi sebenarnya aku berusaha untuk menebak hal menarik buat kita bicarakan. Tapi kayaknya, tiba-tiba aku jadi seolah tak begitu akrab dengan suasana hati…mu “ kami kembali terdiam.

‘Hei… gimana kalau kita kembali ke komitment awal… just a moment in time… ? makin kagok aku dengan suasana serius seperti ini.” Akhirnya aku berani juga menyatakan yang ada dalam pikiranku. Senyum nya sekedarnya… saja….

‘Hei… I sing a song for you.. “ kataku sambil berjalan menuju panggung tanpa menunggu jawaban.

“Smile an everlasting smile,
a smile can bring you near to me.
Don’t ever let me find you down,
cause that would bring a tear to me. “

kucoba bawakan “World”-nya Bee gees, walau dengan suara pas-pasan. Dua buah lagu berturut-turut mengalun, sebelum kututup dengan The Actor dari albumnya Michael Learn To Rock

“wow… ngak nyangka… kamu bisa sebagus itu. Aku sering dengar orang dari sebrang bisa nyanyi… tapi … ini wow… surprise..” sambutnya dengan antusias.

“That its Maria yang aku kenal… “ sambutku… melihat dia tiba-tiba kembali dalam keceriaan.

“Wow… aku jadi ingin tahu kebisaan kamu yang lain…”

“Yakin… mau tahu kebisaanku yang lain…? aku sich ngak nyesal.”

“Hei… maksudku.. kebisaan yang surprise seperti ini.”

“Ya.. aku punya kebisaan nekad lho…”

“Itu mah bukan kebisaan tapi hobby kamu…”

“Ok.. mau cobain kebisaanku..yang lain..?” sambil menunjuk beberapa pasangan yang sedang melantai diiringi lagu-lagu Sixties.

“Hmh……. Aku ngak yakin…”

“C’mon… just pass the time…” kataku sambil menariknya berdiri.

“Kadang bicara dari hati ke hati.. tanpa suara.. itu memberikan banyak arti yang tak mungkin terungkap.” Bisikku sambil memeluknya. Dia mengangkat kepalanya yang bersandar di bahuku.

“Aku ingin cerita banyak.. tapi apa ada artinya ?”

“Aku ngak tahu… arti apa yang Maria harapkan..” hei.. aku mulai menggunakan namanya dalam percakapan… sejak kapan ya..?

“Banyak orang menyatakan kehadiran orang ke-tiga itu ditandai dengan kebisaan menceritakan sesuatu kepadanya.”katanya sambil kembali menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku tidak menanggapinya dan kami benar-benar menikmatinya. Kami berhenti ketika lagu ke tiga terlewati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar