Kamis, 20 Oktober 2016

Langit malam jakarta - February 27, 2006

“No matter how the weather, there is always running sun, Wake-up man.”

Jam 05.12. Edan… kadang tak bisa dibayangkan sebesar apa perhatiannya padaku. 

Hampir dua bulan ini, setiap pagi aku dibangunkan smsnya. Nah ini salahku juga, harusnya sampai dirumah, HP tidak aktif, namun justru aku kadang mengharapkannya. Edan.. Ya sudah… “morning, wishing u a nice day” balasku sekenanya.

Perkenalan yang tak seharusnya. Aku mengenalnya ketika harus mengikuti kuliah. Ini masalahnya, kuliah. 

Entah kenapa aku sudah tidak tertarik dengan yang namanya kuliah. Terlalu tua kupikir dan juga belajar kan tidak harus melalui ruang kuliah. “Hari gini masih kuliah…. ? “ celutuk anakku ketika tahu bahwa aku mau kuliah.Aku mulai akrab setelah berkali-kali menemukan kasus yang sama. Terlambat, bahkan untuk ujian tengah semesterpun telat, dan akhirnya aku wajib lapor padanya.

Dan kalimat itu sudah tujuh kali dalam seminggu ini. 

“Hi…. Ada yang mau dijelaskan dengan pilihan sms mu yang terakhir ini ?” ketika sorenya ketemu.

“Ndak.. aku cuma lagi senang aja…dengan kalimat itu. Gimana hari ini, masih melelahkan ?”

“Rasanya ya… masih tetap saja. Kamu gimana… semua berjalan baik.”

“Ada bedanya antara rasanya dengan kenyataannya ?” dia mengacuhkan pertanyaanku sambil tersenyum. Senyum yang tak mudah dilupakan dan selalu memancing perasaan tak tega.

“Ya…. terkadang kita tidak inginkan kenyataan itu menjadi suatu beban, maka kita pakai rasanya. Itu lebih mudah.” Kataku sambil mencoba membuang pandangan

“Ya… no matter how the weather, there is always running sun. Betulkan ? Biasanya kamu penuh dengan komentar. “

“Sulit memberi komentar kepada kenyataan. Kenyataan itu absolut. Yang menjadi pertanyaan adalah pilihannya. Kenapa harus matahari ? Kenapa bukan bulan, lebih nyaman karena bisa sembunyi di antara keremangannya. Atau mungkin angin dengan semilirnya yang menyejukkan ? “ Jam-jam begini TIM memang mulai sepi, dan hujan yang sejak sore memberi nuansa lain. 

“Kadang kita menerimanya sebagai takdir yang tidak bisa dihindarkan. Sejak lahir, kita sudah tidak memilih, kita tidak pernah minta dilahirkan, tidak bisa memilih dalam keluarga yang bagaimana, dalam suku mana atau lingkungan bagaimana. Matipun kita tak bisa memilih. Lalu masihkah kita bicara pilihan ? “ katanya sambil mengaduk-aduk capucino- nya setengah hati. Dia menatapku, agak lain rasanya.

“Tapi kenyataannya kita harus memilih dari banyak pilihan kan ? “ tanyaku tanpa berharap jawaban. 

“Teruskan, saya senang melihatmu bicara “ katanya setelah kami terdiam sejenak.

“Apa yang membuatmu senang, wong aku ngomong sekenanya. Apa karena tidak banyak yang berani bicara sekenanya ? “ dia teruskan mengaduk capucino-nya setengah hati.. Dia menatapku sejenak dan menunduk kembali. 

Dengan statusnya sebagai dosen dan S2, general manager di satu perusahaan ternama lagi, pantas kalau sedikit yang berani bicara terbuka dan seadanya. 

“Mungkin, tapi bukan karena itu, tapi karena sedikit yang berani bicara terbuka tapi tanpa keinginan berlebih.”

‘Hei.. siapa bilang aku tanpa keinginan yang berlebih. Aku mahasiswamu, aku yg butuh nilai yang bagus, ijin datang terlambat, absen yang banyak tapi tetap bisa ikut ujian.” Dan jangan lupa, aku bisa bangga dapat kesempatan ngobrol dengan wanita cantik sepertimu…” Kucoba mencairkan suasana dengan senyum.”
“keinginan yang wajar… apalagi dengan karakter mata keranjang yang kamu miliki, modal nekad yang biasa kamu jalani. Itu sangat wajar.” Senyum menghiasi bibirnya. 

“Cukup diruang kuliah kamu mendengar aku. Materiku adalah yang tertulis, materimu adalah yang ditulis .” lanjutnya sebelum aku kembali menyahut dan menatapku cukup tajam.

“Maksud mu…?” 

“Kamu tahu maksudku. Tanpa kuliah pun kamu udah tahu yang kubicarakan. Yang kamu bicarakan adalah yang kamu lakukan. Dan itu sangat berbeda. Aku belajar literatur, kamu dari pengalaman. ”

“Itu makanya sering salah, tidak seperti mu yang selalu berhasil. Trail error, learning by doing.. he he he.” Dia terdiam tanpa reaksi. aku serba salah, ada yang lain nih. 

Biasanya obrolan kami mengalir tak henti dan tanpa batas. Kadang tentang pekerjaanku, kadang pekerjaannya. Kadang tentang orang-orang yang berhubungan bisnis atau bahkan tentang orang lain yang ada hubunganya dengan kami. Yang jelas kami belum pernah bicara masalah pribadi. Akhirnya aku nyalakan rokok. Dia menatapku tak setuju. 

“Terlalu mengganggumu ?” tanyaku.

“Ya… tapi itu akan mengurangi kenikmatanmu kan ?” kami kembali dengan kesibukan sendiri. Sementara jalanan ramai karena bubaran bioskop.

“Sering aku merasa pilihan itu tak berujung.” Lanjutnya ketika aku masih menikmati rokokku. Aku memperhatikannya.

“Dengan apa yang telah kucapai harusnya ada rasa bangga yang menyelimuti hatiku. Status sosial, tingkat ekonomi dan juga lingkungan hidup yang kumiliki, harusnya sudah memberikan rasa puas. Ya.. kan…?” aku menatapnya, ada nada getir dalam bicaranya.

“Kamu lagi boring juga ya ?” Dia mengangguk. 

“Ya.. kamu seharusnya bangga dengan apa yang kamu miliki sekarang. “ kami terdiam cukup lama dan aku mulai ragu dengan pembicaraan seserius ini.

“ This is the Friday night, mau menghabiskan malam ini denganku “ aku kaget mendengar ajakannya yang tiba-tiba. Tiga bulan ini seingatku dia tidak pernah cerita masalah, apalagi akrab dengan gempita malam.

“Are you sure ? “ aku masih ragu-ragu.

“Tak ada yang perlu kutakutkan kan ?” jawabnya yakin.” Atau aku terlalu tua menemanimu ?.” 

“Hah….. aku lebih tua minimal sepuluh tahun darimu.” Jawabku dalam hati sambil menimbang-nimbang.

“Please, belum ada janji kan.” Ya.. aku pernah cerita bahwa Friday night selalu kuhabiskan dengan teman-teman. 

“Atau aku belum masuk klasifikasi teman ?” dia mulai merajuk. Aku bingung, benar-benar bingung. Ragu, seragu-ragunya. Gila… kemana nih. Bukan masalah waktunya, tapi tempat dan suasana yang diinginkannya.

“Oke, aku cuma suka live music, sedikit minum, ngobrol bebas, ya dance.. kalau ada kesempatan, berlebih untuk kamu temani ?” dia mendesakku. Gile…. Benar-benar gila…. Baru ini kali aku justru yang kurang yakin diri.

“Kamu terlalu sempurna untuk ke tempat seperti itu. Terlalu mahal, karena akan mengurangi nilai yang kamu miliki sekarang.” Akhirnya bisa juga aku bicara.

“Nanti tolong jelaskan itu disana.” Katanya sambil mengangkat tangan untuk minta bill.

“Kita pakai mobilku aja, mau taruh mobilmu dikantor atau tinggal disini ?” dia berdiri mengenakan kembali blazer nya. “Ada apa sich, kok tiba-tiba lain dari biasanya ? “ tanyaku ketika sudah duduk disebelahnya keluar dari kantorku.

“Boleh minta nyalain aku rokok ? Ingin juga kembali nikmati merokok” Aku makin kaget. Merokok ? Wow banyak juga hal yang harus kutahu darinya selain sisi “sempurna” yang selama ini ada.

“Mungkinkah kita bisa lepas dari semua status yang kita pikul hanya sejak saat ini sampai nanti kita pisah ” katanya setelah melepaskan asap dari mulutnya.

“Ok… aku terbiasa dengan situasi seperti itu” aku mulai menemukan percaya diri, yang terjadi terjadilah.

“Apa kamu mulai kecewa dengan apa yang kamu lihat sekarang, paling tidak nilai yang tadinya kamu berikan berkurang ?” 

“Terhadapmu ? Tidak. Kita penuh dengan beragam nilai. Tergantung dari pertanyaannya. Nilai apa yang kamu tanyakan. Sebagai dosen kamu bukan dosen yang buruk. Sebagai wanita… kamu masih sangat menarik dan….” 

“stop.. kamu kalau sudah diberi angin, langsung tiupannya sekencang angin tornado” dia memotong. “justru itu yang kuinginkan.. biarlah itu semua tetap ada, tapi tidak menjadi dasar. Kita ketemu, bicara dan tanpa dasar. Just a moment in time. Berlalu dengan sendirinya.” Jalan sudirman masih juga ramai, walaupun sudah tidak macet.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar