“No matter how the weather, there is always running sun, Wake-up man.”
Jam 05.12. Edan… kadang tak bisa dibayangkan sebesar apa perhatiannya padaku.
Hampir dua bulan ini, setiap
pagi aku dibangunkan smsnya. Nah ini salahku juga, harusnya sampai
dirumah, HP tidak aktif, namun justru aku kadang mengharapkannya. Edan..
Ya sudah… “morning, wishing u a nice day” balasku sekenanya.
Perkenalan yang tak seharusnya.
Aku mengenalnya ketika harus mengikuti kuliah. Ini masalahnya, kuliah.
Entah kenapa aku sudah tidak tertarik dengan yang namanya kuliah.
Terlalu tua kupikir dan juga belajar kan tidak harus melalui ruang
kuliah. “Hari gini masih kuliah…. ? “ celutuk anakku ketika tahu bahwa
aku mau kuliah.Aku mulai akrab setelah berkali-kali menemukan kasus yang
sama. Terlambat, bahkan untuk ujian tengah semesterpun telat, dan
akhirnya aku wajib lapor padanya.
Dan kalimat itu sudah tujuh kali dalam seminggu ini.
“Hi…. Ada yang mau dijelaskan dengan pilihan sms mu yang terakhir ini ?” ketika sorenya ketemu.
“Ndak.. aku cuma lagi senang aja…dengan kalimat itu. Gimana hari ini, masih melelahkan ?”
“Rasanya ya… masih tetap saja. Kamu gimana… semua berjalan baik.”
“Ada bedanya antara rasanya
dengan kenyataannya ?” dia mengacuhkan pertanyaanku sambil tersenyum.
Senyum yang tak mudah dilupakan dan selalu memancing perasaan tak tega.
“Ya…. terkadang kita tidak
inginkan kenyataan itu menjadi suatu beban, maka kita pakai rasanya. Itu
lebih mudah.” Kataku sambil mencoba membuang pandangan
“Ya… no matter how the weather, there is always running sun. Betulkan ? Biasanya kamu penuh dengan komentar. “
“Sulit memberi komentar kepada
kenyataan. Kenyataan itu absolut. Yang menjadi pertanyaan adalah
pilihannya. Kenapa harus matahari ? Kenapa bukan bulan, lebih nyaman
karena bisa sembunyi di antara keremangannya. Atau mungkin angin dengan
semilirnya yang menyejukkan ? “ Jam-jam begini TIM memang mulai sepi,
dan hujan yang sejak sore memberi nuansa lain.
“Kadang kita menerimanya
sebagai takdir yang tidak bisa dihindarkan. Sejak lahir, kita sudah
tidak memilih, kita tidak pernah minta dilahirkan, tidak bisa memilih
dalam keluarga yang bagaimana, dalam suku mana atau lingkungan
bagaimana. Matipun kita tak bisa memilih. Lalu masihkah kita bicara
pilihan ? “ katanya sambil mengaduk-aduk capucino- nya setengah hati.
Dia menatapku, agak lain rasanya.
“Tapi kenyataannya kita harus memilih dari banyak pilihan kan ? “ tanyaku tanpa berharap jawaban.
“Teruskan, saya senang melihatmu bicara “ katanya setelah kami terdiam sejenak.
“Apa yang membuatmu senang,
wong aku ngomong sekenanya. Apa karena tidak banyak yang berani bicara
sekenanya ? “ dia teruskan mengaduk capucino-nya setengah hati.. Dia
menatapku sejenak dan menunduk kembali.
Dengan statusnya sebagai dosen
dan S2, general manager di satu perusahaan ternama lagi, pantas kalau
sedikit yang berani bicara terbuka dan seadanya.
“Mungkin, tapi bukan karena itu, tapi karena sedikit yang berani bicara terbuka tapi tanpa keinginan berlebih.”
‘Hei.. siapa bilang aku tanpa
keinginan yang berlebih. Aku mahasiswamu, aku yg butuh nilai yang bagus,
ijin datang terlambat, absen yang banyak tapi tetap bisa ikut ujian.”
Dan jangan lupa, aku bisa bangga dapat kesempatan ngobrol dengan wanita
cantik sepertimu…” Kucoba mencairkan suasana dengan senyum.”
“keinginan yang wajar… apalagi
dengan karakter mata keranjang yang kamu miliki, modal nekad yang biasa
kamu jalani. Itu sangat wajar.” Senyum menghiasi bibirnya.
“Cukup diruang kuliah kamu
mendengar aku. Materiku adalah yang tertulis, materimu adalah yang
ditulis .” lanjutnya sebelum aku kembali menyahut dan menatapku cukup
tajam.
“Maksud mu…?”
“Kamu tahu maksudku. Tanpa
kuliah pun kamu udah tahu yang kubicarakan. Yang kamu bicarakan adalah
yang kamu lakukan. Dan itu sangat berbeda. Aku belajar literatur, kamu
dari pengalaman. ”
“Itu makanya sering salah,
tidak seperti mu yang selalu berhasil. Trail error, learning by doing..
he he he.” Dia terdiam tanpa reaksi. aku serba salah, ada yang lain nih.
Biasanya obrolan kami mengalir
tak henti dan tanpa batas. Kadang tentang pekerjaanku, kadang
pekerjaannya. Kadang tentang orang-orang yang berhubungan bisnis atau
bahkan tentang orang lain yang ada hubunganya dengan kami. Yang jelas
kami belum pernah bicara masalah pribadi. Akhirnya aku nyalakan rokok.
Dia menatapku tak setuju.
“Terlalu mengganggumu ?” tanyaku.
“Ya… tapi itu akan mengurangi
kenikmatanmu kan ?” kami kembali dengan kesibukan sendiri. Sementara
jalanan ramai karena bubaran bioskop.
“Sering aku merasa pilihan itu tak berujung.” Lanjutnya ketika aku masih menikmati rokokku. Aku memperhatikannya.
“Dengan apa yang telah kucapai
harusnya ada rasa bangga yang menyelimuti hatiku. Status sosial, tingkat
ekonomi dan juga lingkungan hidup yang kumiliki, harusnya sudah
memberikan rasa puas. Ya.. kan…?” aku menatapnya, ada nada getir dalam
bicaranya.
“Kamu lagi boring juga ya ?” Dia mengangguk.
“Ya.. kamu seharusnya bangga
dengan apa yang kamu miliki sekarang. “ kami terdiam cukup lama dan aku
mulai ragu dengan pembicaraan seserius ini.
“ This is the Friday night, mau
menghabiskan malam ini denganku “ aku kaget mendengar ajakannya yang
tiba-tiba. Tiga bulan ini seingatku dia tidak pernah cerita masalah,
apalagi akrab dengan gempita malam.
“Are you sure ? “ aku masih ragu-ragu.
“Tak ada yang perlu kutakutkan kan ?” jawabnya yakin.” Atau aku terlalu tua menemanimu ?.”
“Hah….. aku lebih tua minimal sepuluh tahun darimu.” Jawabku dalam hati sambil menimbang-nimbang.
“Please, belum ada janji kan.” Ya.. aku pernah cerita bahwa Friday night selalu kuhabiskan dengan teman-teman.
“Atau aku belum masuk
klasifikasi teman ?” dia mulai merajuk. Aku bingung, benar-benar
bingung. Ragu, seragu-ragunya. Gila… kemana nih. Bukan masalah waktunya,
tapi tempat dan suasana yang diinginkannya.
“Oke, aku cuma suka live music,
sedikit minum, ngobrol bebas, ya dance.. kalau ada kesempatan, berlebih
untuk kamu temani ?” dia mendesakku. Gile…. Benar-benar gila…. Baru ini
kali aku justru yang kurang yakin diri.
“Kamu terlalu sempurna untuk ke
tempat seperti itu. Terlalu mahal, karena akan mengurangi nilai yang
kamu miliki sekarang.” Akhirnya bisa juga aku bicara.
“Nanti tolong jelaskan itu disana.” Katanya sambil mengangkat tangan untuk minta bill.
“Kita pakai mobilku aja, mau taruh mobilmu dikantor atau tinggal disini ?” dia berdiri mengenakan kembali blazer nya. “Ada apa sich, kok tiba-tiba lain dari biasanya ? “ tanyaku ketika sudah duduk disebelahnya keluar dari kantorku.
“Boleh minta nyalain aku rokok ?
Ingin juga kembali nikmati merokok” Aku makin kaget. Merokok ? Wow
banyak juga hal yang harus kutahu darinya selain sisi “sempurna” yang
selama ini ada.
“Mungkinkah kita bisa lepas
dari semua status yang kita pikul hanya sejak saat ini sampai nanti kita
pisah ” katanya setelah melepaskan asap dari mulutnya.
“Ok… aku terbiasa dengan situasi seperti itu” aku mulai menemukan percaya diri, yang terjadi terjadilah.
“Apa kamu mulai kecewa dengan apa yang kamu lihat sekarang, paling tidak nilai yang tadinya kamu berikan berkurang ?”
“Terhadapmu ? Tidak. Kita penuh
dengan beragam nilai. Tergantung dari pertanyaannya. Nilai apa yang
kamu tanyakan. Sebagai dosen kamu bukan dosen yang buruk. Sebagai
wanita… kamu masih sangat menarik dan….”
“stop.. kamu kalau sudah diberi
angin, langsung tiupannya sekencang angin tornado” dia memotong.
“justru itu yang kuinginkan.. biarlah itu semua tetap ada, tapi tidak
menjadi dasar. Kita ketemu, bicara dan tanpa dasar. Just a moment in
time. Berlalu dengan sendirinya.” Jalan sudirman masih juga ramai,
walaupun sudah tidak macet.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar