Kamis, 20 Oktober 2016

Kecewa - February 27, 2006

“Perubahan. Tak ada yang abadi selain perubahan.” aku membuka cerita, dan dia mencoba mendengar.

“Perubahan yang lebih sering tanpa kita sadari dan harapkan. Perubahan karena sekeliling kita yang berubah. Karena sekeliling kita yang memaksa berubah.”

“Hei suaramu penuh keraguan. Apa ini juga salah satu yang telah berubah dari mu ?” dia memotong bicaraku. Aku menatapnya. Ya suaranya tidak pernah berubah, intonasi dan laval bicaranya selalu bening dan tegas. Seolah tak satu halpun yang bisa merubah tekanan suaranya, selalu hangat, lembut tapi jelas.

“Mungkin.. “

“Aku melihat perubahan itu padamu. Aku mengikuti nya. Tak ada yang salah dalam perubahan itu kan ? Bukankah justru perubahan itu yang kita harapkan dan cita-citakan ? Itu yang membuat orang mau belajar, mau berusaha ?”

“Ya… perubahan yang sering mengakibatkan luka dan kecewa..”

“He..he..he..yang satu ini kamu belum berubah. Selalu dipenuhi dengan emosi, hati. Kegagalan yang selalu kamu timpakan sebagai ketidak mampuan. Kesalahan yang selalu kamu anggap sebagai ketidak-hati-hatian. Itu sangat bagus. Sangat bagus. karena dengan itu kamu mencoba memberikan beban agar lebih bisa berusaha. Beban yang memberi kamu isyarat untuk berhati-hati sebelum melakukan sesuatu. Tapi hanya disitu, berhenti disitu.” Aku mendengar dengan asyik.

“Coba kita simak kembali pengalaman yang kamu alami. Kegagalan kamu di Bandung membekas sangat dalam perasaanmu. Kesombongan yang membuat kamu gagal. Aku setuju dan itu sangat bisa memberikan kamu luka yang sangat dalam. Bertahun-tahun kamu baru bisa lepas dari rasa sesal. tapi setelah itu, apa yang kamu dapatkan dalam tiga tahun ? Hanya membuang kesempatan demi kesempatan yang mungkin memberikan peluang yang sangat luar biasa.” kami terdiam.

“Tapi sekarang, apa yang terjadi ? demikian hati-hatinya kamu atas setiap peluang yang muncul. demikian berharganya bagimu setiap detik yang akan kamu lalui. Satu persatu langkah untuk maju kamu tapaki dengan sabar. Itu yang menghantarmu sampai kepada keadaan sekarang… keyakinan bahwa peluang itu tidak pernah menunggumu dan menghampirimu. Tapi harus kamu raih dengan kerja keras, dengan sabar dan tekun”.

“Tapi aku semakin tidak yakin ?”

“tentang apa ?”

“tentang kemampuanku untuk tekun, untuk sabar dan tidak bereaksi berlebih”

“Itu bagus, kalau kamu tidak yakin. Karena itu akan memberikan kamu kesadaran yang lebih baik atas segala hasil yang kamu peroleh. Tidak yakin berhasil bukan berarti gagal kan ? Asal masih yakin bahwa kamu masih punya kemauan untuk berusaha. Cukup”

Kami terdiam cukup lama. hampir satu batang rokok ku habiskan ketika dia kembali bicara.

“Aku juga tercengang melihat mu beberapa minggu terakhir ini. Bahkan ragu, apakah kamu masih yang aku kenal. Tujuh belas tahun aku melihatmu dari jauh, penuh dengan semangat dan tidak mudah patah. Tapi tiba-tiba ketika kamu kembali, kecengengan, kelabilan itu kembali menguasai dirimu. bahkan teramat kuat, lebih kuat dari yang aku kenal dulu.

“Kalau dulu kamu cukup menangis, menyanyikan lagu sendu, merangkai kata demi kata. dan itu masih memberikan nilai tambah bagi dirimu. Orang masih menerima itu sebagai suatu ciri orang yang menuju kedewasaan.”

“Hari ini aku temukan jawabnya. Kecewa. Penyakit kamu yang utama itu tidak berubah. Kamu tidak akan pernah bisa kecewa pada orang lain, karena bagimu mereka hanyalah pelengkap.. dan bukan yang utama. Kamu akan tetap salahkan diri atas ’kegagalan’ harapan dan kenyataanmu. Kamu masih akan tetap merasa tidak mampu untuk melakukan semua yang ‘baik’ menurutmu. TIDAK. Yang tidak bisa kamu terima adalah “KECEWA” adalah suatu hasil. ” Aku mengangkat kepala menatapnya.

“Kegagalan adalah suatu hasil. Kesuksesan adalah suatu hasil. Tinggal kamu, diri kamu, hatimu dan pikiranmu, bagaimana menerima setiap hasil yang kamu hadapi. Aku tak kan mengutip pikiran orang yang menyatakan ” Kegagalan adalah sukses yang tertunda” . Kamu tidak menerima itu sebagai suatu yang original. Tapi yang ingin kukatakan, seperti dulu, ‘Janganlah menatap kelangit setiap saat, nanti langkahmu terantuk. Jangan tertunduk pula terus menerus nanti lehermu sakit. Menatap lurus kedepan, membuat matamu lelah.’ Coba untuk melihat seperlunya. Lihat lah ke bawah betapa banyak yang tidak mampu meraih yang telah kamu raih sekarang, kok kamu masih KECEWA ? Ketika kamu butuh semangat, lihat betapa banyak bintang yang harus kamu raih. ” Kami sama-sama terdiam.

“Kecewa itu memberikan saat untuk melihat kebelakang. Kecewa itu memberikan isyarat untuk lebih berusaha. Kecewa itu memberikan tambahan daya untuk tidak dikecewakan lagi. dan banyak hal yang dapat ditimbulkan oleh kecewa. TIDAK sekedar menangis dan menyesal…..

“KECEWA adalah hasil…….” gumanku perlahan, ketika harus meninggalkannya. “Belum yakin untuk bisa menerimanya, tapi paling tidak harus ada cara lain menerima kecewa daripada merusak hati, emosi dan langkah yang telah disusun.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar