“Perubahan. Tak ada yang abadi selain perubahan.” aku membuka cerita, dan dia mencoba mendengar.
“Perubahan yang lebih sering tanpa kita sadari dan harapkan.
Perubahan karena sekeliling kita yang berubah. Karena sekeliling kita
yang memaksa berubah.”
“Hei suaramu penuh keraguan. Apa ini juga salah satu yang telah
berubah dari mu ?” dia memotong bicaraku. Aku menatapnya. Ya suaranya
tidak pernah berubah, intonasi dan laval bicaranya selalu bening dan
tegas. Seolah tak satu halpun yang bisa merubah tekanan suaranya, selalu
hangat, lembut tapi jelas.
“Mungkin.. “
“Aku melihat perubahan itu padamu. Aku mengikuti nya. Tak ada yang
salah dalam perubahan itu kan ? Bukankah justru perubahan itu yang kita
harapkan dan cita-citakan ? Itu yang membuat orang mau belajar, mau
berusaha ?”
“Ya… perubahan yang sering mengakibatkan luka dan kecewa..”
“He..he..he..yang satu ini kamu belum berubah. Selalu dipenuhi dengan
emosi, hati. Kegagalan yang selalu kamu timpakan sebagai ketidak
mampuan. Kesalahan yang selalu kamu anggap sebagai ketidak-hati-hatian.
Itu sangat bagus. Sangat bagus. karena dengan itu kamu mencoba
memberikan beban agar lebih bisa berusaha. Beban yang memberi kamu
isyarat untuk berhati-hati sebelum melakukan sesuatu. Tapi hanya disitu,
berhenti disitu.” Aku mendengar dengan asyik.
“Coba kita simak kembali pengalaman yang kamu alami. Kegagalan kamu
di Bandung membekas sangat dalam perasaanmu. Kesombongan yang membuat
kamu gagal. Aku setuju dan itu sangat bisa memberikan kamu luka yang
sangat dalam. Bertahun-tahun kamu baru bisa lepas dari rasa sesal. tapi
setelah itu, apa yang kamu dapatkan dalam tiga tahun ? Hanya membuang
kesempatan demi kesempatan yang mungkin memberikan peluang yang sangat
luar biasa.” kami terdiam.
“Tapi sekarang, apa yang terjadi ? demikian hati-hatinya kamu atas
setiap peluang yang muncul. demikian berharganya bagimu setiap detik
yang akan kamu lalui. Satu persatu langkah untuk maju kamu tapaki dengan
sabar. Itu yang menghantarmu sampai kepada keadaan sekarang… keyakinan
bahwa peluang itu tidak pernah menunggumu dan menghampirimu. Tapi harus
kamu raih dengan kerja keras, dengan sabar dan tekun”.
“Tapi aku semakin tidak yakin ?”
“tentang apa ?”
“tentang kemampuanku untuk tekun, untuk sabar dan tidak bereaksi berlebih”
“Itu bagus, kalau kamu tidak yakin. Karena itu akan memberikan kamu
kesadaran yang lebih baik atas segala hasil yang kamu peroleh. Tidak
yakin berhasil bukan berarti gagal kan ? Asal masih yakin bahwa kamu
masih punya kemauan untuk berusaha. Cukup”
Kami terdiam cukup lama. hampir satu batang rokok ku habiskan ketika dia kembali bicara.
“Aku juga tercengang melihat mu beberapa minggu terakhir ini. Bahkan
ragu, apakah kamu masih yang aku kenal. Tujuh belas tahun aku melihatmu
dari jauh, penuh dengan semangat dan tidak mudah patah. Tapi tiba-tiba
ketika kamu kembali, kecengengan, kelabilan itu kembali menguasai
dirimu. bahkan teramat kuat, lebih kuat dari yang aku kenal dulu.
“Kalau dulu kamu cukup menangis, menyanyikan lagu sendu, merangkai
kata demi kata. dan itu masih memberikan nilai tambah bagi dirimu. Orang
masih menerima itu sebagai suatu ciri orang yang menuju kedewasaan.”
“Hari ini aku temukan jawabnya. Kecewa. Penyakit kamu yang utama itu
tidak berubah. Kamu tidak akan pernah bisa kecewa pada orang lain,
karena bagimu mereka hanyalah pelengkap.. dan bukan yang utama. Kamu
akan tetap salahkan diri atas ’kegagalan’ harapan dan kenyataanmu. Kamu
masih akan tetap merasa tidak mampu untuk melakukan semua yang ‘baik’
menurutmu. TIDAK. Yang tidak bisa kamu terima adalah “KECEWA” adalah suatu hasil. ” Aku mengangkat kepala menatapnya.
“Kegagalan adalah suatu hasil. Kesuksesan adalah suatu hasil. Tinggal
kamu, diri kamu, hatimu dan pikiranmu, bagaimana menerima setiap hasil
yang kamu hadapi. Aku tak kan mengutip pikiran orang yang menyatakan ”
Kegagalan adalah sukses yang tertunda” . Kamu tidak menerima itu sebagai
suatu yang original. Tapi yang ingin kukatakan, seperti dulu, ‘Janganlah
menatap kelangit setiap saat, nanti langkahmu terantuk. Jangan
tertunduk pula terus menerus nanti lehermu sakit. Menatap lurus kedepan,
membuat matamu lelah.’ Coba untuk melihat seperlunya. Lihat lah ke
bawah betapa banyak yang tidak mampu meraih yang telah kamu raih
sekarang, kok kamu masih KECEWA ? Ketika kamu butuh semangat, lihat
betapa banyak bintang yang harus kamu raih. ” Kami sama-sama terdiam.
“Kecewa itu memberikan saat untuk melihat kebelakang. Kecewa itu
memberikan isyarat untuk lebih berusaha. Kecewa itu memberikan tambahan
daya untuk tidak dikecewakan lagi. dan banyak hal yang dapat ditimbulkan
oleh kecewa. TIDAK sekedar menangis dan menyesal….. “
“KECEWA adalah hasil…….” gumanku perlahan, ketika harus
meninggalkannya. “Belum yakin untuk bisa menerimanya, tapi paling tidak
harus ada cara lain menerima kecewa daripada merusak hati, emosi dan
langkah yang telah disusun.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar